This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 14 Desember 2014

INCES DALAM KEHIDUPAN SOSIAL RELIGIUS MASYARAKAT BALI



INCES DALAM KEHIDUPAN SOSIAL RELIGIUS MASYARAKAT BALI
I Nyoman Duana Sutika
I Gusti Ngurah Jayanti
Fakultas Sastra Universitas Udayana
Jln. Nias 13 Denpasar
Hp. 082144444058

ABSTRAK
Inces sosial religius dipahami sebagai larangan tata kehidupan sosial masyarakat Bali terhadap prilaku kehidupannya yang diatur dalam dresta dan sima (kebiasaan) masyarakatnya. Tata nilai tersebut sampai saat ini masih tetap dipertahankan, diyakini dan ditaati oleh anggota masyarakat Bali. Ketaatan ini didasari oleh adanya keyakinan dan persepsi masyarakat atas konsekuensi sosial religius yang ditimbulkan bagi pelanggarnya. Dengan demikian masyarakat Bali  senantiasa menjadikan tri hita karana sebagai payung kearifan lokal di dalam segala aspek kehidupan sosial religiusnya, yakni menjaga hubungan yang selaras dan harmonis dengan pencipta (Tuhan), sesama, dan alam lingkungannya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera dan damai bagi kelangsungan hidup masyarakatnya.
Kata kunci: Inces, kearifan lokal, tata nilai, dan sosial religius

Sabtu, 13 Desember 2014

PERKAWINAN YENTANA DALAM SISTEM PATRILINIAL DI BALI



PERKAWINAN YENTANA DALAM SISTEM PATRILINIAL DI BALI

I Gusti Ngurah Jayanti
ngurah_jayen@yahoo.com
Hp.081338399668

ABSTRAK
Perkawinan adat Bali pada umumnya menerapkan system perkawinan patrilinial dalam hubungan kekerabatannya, pihak laki-laki membawa peranan yang lebih menonjol dibandingkan dari pihak perempuan. Laki-laki sebagai pihak “kepurusa” sebagai sentral pemegang tanggung jawab terhadap segala bentuk aturan adat yang terdapat di pakraman atau wilayah tempat tinggalnya (desa adat). Sentralias dan absolutnya peran laki-laki baik secara social (public) dan juga secara religious menyebabkan kedudukan dan peran kepurusa hampir tidak dapat digantikan oleh perempuan sebagai pradana. Konsep perkawinan adat Bali yang demikian ini membawa konsekuensi logis terhadap psikologis dari peran perempuan secara genderis. Hal inilah memicu adanya pola-pola alternative untuk berusaha menempatkan status perempuan agar dalam perubahan jaman, perempuan juga dapat seyogyanya mempunyai peran yang sama terhadap laki-laki. Nyentana merupakan salah satu pola perkawinan adat Bali yang menempatkan perempuan sebagai purusa dan laki-laki sebagai predana. Ini berarti secara hukum adat Bali menempatkan perempuan pada posisi yang sentral walaupun masih dalam batasan secara simbolis. Dalam kata lain masih dalam bayang symbol patriarkhi masih tetap mengikat secara genderis.
Kata kunci: Nyentana, Perkawinan, adat Bali, Patrilinial.

Jumat, 12 Desember 2014

PROSESI PERKAWINAN ADAT SASAK



PROSESI PERKAWINAN ADAT SASAK[1]
Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si[2].

Pendahuluan
Perkawinan merupakan sebuah fenomena budaya yang hampir terdapat di semua komunitas budaya, khususnya di Indonesia. Perkawinan dianggap sebagai suatu peristiwa yang penting, oleh sebagaian masyarakat. Suku Sasak menganggap perkawinan merupakan bagian dari pristiwa penting dalam proses perjalanan kehidupannya. Oleh karena itu upacara perkawinan selalu dirayakan dengan penuh suka cita, diiringi dengan prosesi adat dan kesenian. Dalam masyarakat Sasak, mengenal beberapa cara pelaksanaan perkawinan yaitu:
1.     Kawin Lari (marariq)
Proses kawin lari dimulai dengan persiapan dari pihak laki-laki mulai dari proses komunikasi terkait tempat bertemu sampai pada tempat melarikan diri. Si gadis dilarikan oleh seorang pemuda yang pada saat penjemputan tersebut, si pemuda juga telah mengajak beberapa keluarga dekat yang salah satunya adalah seorang wanita. Wanita ini nantinya mendampingi si gadis selama proses pelarian tersebut. Si gadis tidak langsung diajak pulang ke rumah laki-laki, namun si gadis disembunyikan di tempat kerabat wanita keluarga  si pemuda.

Rabu, 10 Desember 2014

RITUAL DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA, PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT



RITUAL DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT
PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA,
PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT

I Gusti Ngurah Jayanti
I Made Sumertha
HP.081338399668


ABSTRAK

Pulau Bungin menyimpan pesona alam maupun budaya yang sangat unik. Penduduk pulau Bungin sebagian besar berasal dari suku Bajo. Mereka umumnya adalah para pelaut. Dalam kehidupannya masyarakat Bungin masih percaya terhadap hal-hal mistis. Hal ini dapat dilihat dari ritual-ritual keagamaan. Ritual-ritual yang menyangkut persembahan terhadap roh leluhur atau pun persembahan terhadap penguasa laut kerap dilaksanakan oleh masyarakat Bungin. ritual-ritual memiliki tujuan untuk menjaga keseimbangan alam sehingga mereka dapat menjalani kehidupan ini dengan aman dan tenteram.
Kata kunci: Pulau Bungin, Sistem Kepercayaan, suku Bajo.

Selasa, 08 Oktober 2013

Begasingan Permainan Tradisional Lombok Timur



BEGASINGAN PERMAINAN TRADISIONAL LOMBOK TIMUR
 Oleh
I Made Satyananda


              Gasing merupakan salah satu alat permainan yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Permainan gasing saat ini sudah sangat langka, terutama di kota-kota besar di negara kita. Permainan ini sama nasibnya seperti permainan lainnya sudah kalah pamor oleh alat permainan yang menggunakan teknologi tinggi atau alat permainan elektronik seperti computer games, video games, play station, ninetendo dan yang lainnya. Permainan tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat berfungsi sebagai salah satu sarana penanaman nilai-nilai budaya.  Dahulu sebelum perkembangan teknologi pesat seperti sekarang ini, fungsi tersebut sangat efektif. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi keberadaan permainan tradisional  tersebut mulai tergeser oleh hadirnya berbagai jenis permainan modern seperti ; games, playstation dan sebagainya, yang oleh sebagian besar anak-anak sekarang dianggap lebih menarik.  Padahal apabila ditinjau dari segi manfaatnya sangat bertolak belakang dengan permainan tradisional. Permainan modern membentuk anak bersifat individual,  kurang kreatif, dan juga memerlukan biaya yang mahal.
Permainan tradisional atau permainan rakyat sebagai salah satu khasanah budaya bangsa merupakan suatu kegiatan jasmani yang seringkali dihubungkan dengan kebutuhan kehidupan yang memerlukan pembinaan keseimbangan organ tubuh. Melalui permainan tradisional dapat memenuhi tuntutan dan tempat menyalurkan rangsangan yang dapat menimbulkan berbagai kebutuhan yang melibatkan berbagai kegiatan sosial budaya, baik secara langsung maupun tidak langsung sebagaimana tercermin pada perkembangan berbagai bentuk permainan tradisional.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites