This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 14 Desember 2014

INCES DALAM KEHIDUPAN SOSIAL RELIGIUS MASYARAKAT BALI



INCES DALAM KEHIDUPAN SOSIAL RELIGIUS MASYARAKAT BALI
I Nyoman Duana Sutika
I Gusti Ngurah Jayanti
Fakultas Sastra Universitas Udayana
Jln. Nias 13 Denpasar
Hp. 082144444058

ABSTRAK
Inces sosial religius dipahami sebagai larangan tata kehidupan sosial masyarakat Bali terhadap prilaku kehidupannya yang diatur dalam dresta dan sima (kebiasaan) masyarakatnya. Tata nilai tersebut sampai saat ini masih tetap dipertahankan, diyakini dan ditaati oleh anggota masyarakat Bali. Ketaatan ini didasari oleh adanya keyakinan dan persepsi masyarakat atas konsekuensi sosial religius yang ditimbulkan bagi pelanggarnya. Dengan demikian masyarakat Bali  senantiasa menjadikan tri hita karana sebagai payung kearifan lokal di dalam segala aspek kehidupan sosial religiusnya, yakni menjaga hubungan yang selaras dan harmonis dengan pencipta (Tuhan), sesama, dan alam lingkungannya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera dan damai bagi kelangsungan hidup masyarakatnya.
Kata kunci: Inces, kearifan lokal, tata nilai, dan sosial religius

Sabtu, 13 Desember 2014

PERKAWINAN YENTANA DALAM SISTEM PATRILINIAL DI BALI



PERKAWINAN YENTANA DALAM SISTEM PATRILINIAL DI BALI

I Gusti Ngurah Jayanti
ngurah_jayen@yahoo.com
Hp.081338399668

ABSTRAK
Perkawinan adat Bali pada umumnya menerapkan system perkawinan patrilinial dalam hubungan kekerabatannya, pihak laki-laki membawa peranan yang lebih menonjol dibandingkan dari pihak perempuan. Laki-laki sebagai pihak “kepurusa” sebagai sentral pemegang tanggung jawab terhadap segala bentuk aturan adat yang terdapat di pakraman atau wilayah tempat tinggalnya (desa adat). Sentralias dan absolutnya peran laki-laki baik secara social (public) dan juga secara religious menyebabkan kedudukan dan peran kepurusa hampir tidak dapat digantikan oleh perempuan sebagai pradana. Konsep perkawinan adat Bali yang demikian ini membawa konsekuensi logis terhadap psikologis dari peran perempuan secara genderis. Hal inilah memicu adanya pola-pola alternative untuk berusaha menempatkan status perempuan agar dalam perubahan jaman, perempuan juga dapat seyogyanya mempunyai peran yang sama terhadap laki-laki. Nyentana merupakan salah satu pola perkawinan adat Bali yang menempatkan perempuan sebagai purusa dan laki-laki sebagai predana. Ini berarti secara hukum adat Bali menempatkan perempuan pada posisi yang sentral walaupun masih dalam batasan secara simbolis. Dalam kata lain masih dalam bayang symbol patriarkhi masih tetap mengikat secara genderis.
Kata kunci: Nyentana, Perkawinan, adat Bali, Patrilinial.

Jumat, 12 Desember 2014

PROSESI PERKAWINAN ADAT SASAK



PROSESI PERKAWINAN ADAT SASAK[1]
Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si[2].

Pendahuluan
Perkawinan merupakan sebuah fenomena budaya yang hampir terdapat di semua komunitas budaya, khususnya di Indonesia. Perkawinan dianggap sebagai suatu peristiwa yang penting, oleh sebagaian masyarakat. Suku Sasak menganggap perkawinan merupakan bagian dari pristiwa penting dalam proses perjalanan kehidupannya. Oleh karena itu upacara perkawinan selalu dirayakan dengan penuh suka cita, diiringi dengan prosesi adat dan kesenian. Dalam masyarakat Sasak, mengenal beberapa cara pelaksanaan perkawinan yaitu:
1.     Kawin Lari (marariq)
Proses kawin lari dimulai dengan persiapan dari pihak laki-laki mulai dari proses komunikasi terkait tempat bertemu sampai pada tempat melarikan diri. Si gadis dilarikan oleh seorang pemuda yang pada saat penjemputan tersebut, si pemuda juga telah mengajak beberapa keluarga dekat yang salah satunya adalah seorang wanita. Wanita ini nantinya mendampingi si gadis selama proses pelarian tersebut. Si gadis tidak langsung diajak pulang ke rumah laki-laki, namun si gadis disembunyikan di tempat kerabat wanita keluarga  si pemuda.

Rabu, 10 Desember 2014

RITUAL DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA, PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT



RITUAL DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT
PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA,
PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT

I Gusti Ngurah Jayanti
I Made Sumertha
HP.081338399668


ABSTRAK

Pulau Bungin menyimpan pesona alam maupun budaya yang sangat unik. Penduduk pulau Bungin sebagian besar berasal dari suku Bajo. Mereka umumnya adalah para pelaut. Dalam kehidupannya masyarakat Bungin masih percaya terhadap hal-hal mistis. Hal ini dapat dilihat dari ritual-ritual keagamaan. Ritual-ritual yang menyangkut persembahan terhadap roh leluhur atau pun persembahan terhadap penguasa laut kerap dilaksanakan oleh masyarakat Bungin. ritual-ritual memiliki tujuan untuk menjaga keseimbangan alam sehingga mereka dapat menjalani kehidupan ini dengan aman dan tenteram.
Kata kunci: Pulau Bungin, Sistem Kepercayaan, suku Bajo.

Selasa, 08 Oktober 2013

Begasingan Permainan Tradisional Lombok Timur



BEGASINGAN PERMAINAN TRADISIONAL LOMBOK TIMUR
 Oleh
I Made Satyananda


              Gasing merupakan salah satu alat permainan yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Permainan gasing saat ini sudah sangat langka, terutama di kota-kota besar di negara kita. Permainan ini sama nasibnya seperti permainan lainnya sudah kalah pamor oleh alat permainan yang menggunakan teknologi tinggi atau alat permainan elektronik seperti computer games, video games, play station, ninetendo dan yang lainnya. Permainan tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat berfungsi sebagai salah satu sarana penanaman nilai-nilai budaya.  Dahulu sebelum perkembangan teknologi pesat seperti sekarang ini, fungsi tersebut sangat efektif. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi keberadaan permainan tradisional  tersebut mulai tergeser oleh hadirnya berbagai jenis permainan modern seperti ; games, playstation dan sebagainya, yang oleh sebagian besar anak-anak sekarang dianggap lebih menarik.  Padahal apabila ditinjau dari segi manfaatnya sangat bertolak belakang dengan permainan tradisional. Permainan modern membentuk anak bersifat individual,  kurang kreatif, dan juga memerlukan biaya yang mahal.
Permainan tradisional atau permainan rakyat sebagai salah satu khasanah budaya bangsa merupakan suatu kegiatan jasmani yang seringkali dihubungkan dengan kebutuhan kehidupan yang memerlukan pembinaan keseimbangan organ tubuh. Melalui permainan tradisional dapat memenuhi tuntutan dan tempat menyalurkan rangsangan yang dapat menimbulkan berbagai kebutuhan yang melibatkan berbagai kegiatan sosial budaya, baik secara langsung maupun tidak langsung sebagaimana tercermin pada perkembangan berbagai bentuk permainan tradisional.

Rabu, 24 April 2013


POLA PRILAKU DAN PELAYANAN SOPIR ANGKUTAN KOTA
DI KOTA DENPASAR



Oleh
I Gusti Ngurah Jayanti
BPSNT BALI, NTB, NTT
Jln. Raya Dalung-Abianbase 107 Badung Bali
Telp. (0361) 439547, Fax. (0361) 439546
Hp. 081338399668


ABSTRAK

Angkutan kota merupakan salah satu alternative sebagai alat transfortasi yang dapat digunakan oleh penduduk kota. Namun, peran angkutan ini sangat dipengaruhi oleh prilaku pelayanan yang diberikan oleh sopir terhadap penumpangnya. Masyarakat akan nyaman dan selalu mengharapkan angkutan kota yang murah aman dan nyaman. Keadaan ini akan selalu terjaga bila pola prilaku sopir angkot kota dapat memberikan pelayanan yang memuaskan bagi para pengguna angkutan kota. Eksistensi angkutan kota sangat tergantung daripada para sopir memberikan pelayanan dalam bentuk ketepatan waktu, keamanan dan kenyamaan dalam berkendara. Bila hal itu diabaikan tidak mustahil angkutan kota akan semakin ditinggalkan.
Kata kunci : Sopir angkutan kota dan Prilaku Pelayanan.

A. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang sedang berproses dalam pembangunan di segala sektor. Laju pertumbuhan populasi kota di Indonesia semakin padat. Hal ini menyebabkan kompleknya permasalahan yang ditimbulkan. Populasi manusia yang bertambah padat dibarengi dengan mobilitas masyarakat yang tinggi. Aktivitas masyarakat kota yang semakin padat menimbulkan kebutuhan baru yang harus terpenuhi. Alat transportasi merupakan salah satu kebutuhan yang penting dan perlu untuk menunjang aktivitas masyarakat perkotaan.
Kendaraan bermotor seolah-olah telah menjadi kebutuhan primer. Pemerintah kota kian gencar membangun armada-armada angkutan yang representatife dan strategis di wilayah kota. Peluang di bidang jasa angkutan semakin terbuka, kepemilikan kendaraan bermotor pun semakin tinggi. Hal ini tercermin dengan bertambah banyaknya kendaraan.
Tercatat jumlah kendaraan bermotor menurut jenisnya yakni: mobil penumpang, bis, truk, dan sepeda motor pada tahun 2005 di Indonesia, sebanyak 37.623.432, dengan komposisi : mobil penumpang sebanyak 5.076.230; bis sebanyak 1.110.255; truk sebanyak 2.875.116; sepeda motor sebanyak 28.561.831. Keadaan ini mengalami peningkatan pada tahun 2006, sebanyak 43 313 052. Dengan komposisi: mobil penumpang sebanyak 6 035 291; bis sebanyak 1 350 047; truk sebanyak 3.398.956 dan sepeda motor sebanyak 32.528.758. Tahun 2007 jumlah kendaraan bermotor sebanyak 54.802.680. Dengan komposisi: mobil penumpang sebanyak 6.035.291; bis sebanyak 1.350.047; truk sebanyak 3.398.956; dan sepeda motor sebanyak 32.528.758. Pada tahun 2008 jumlah kendaraan bermotor sebanyak 61.685.063 dengan komposisi : mobil penumpang sebanyak 7.489.852; bis sebanyak 2.059.187; truk sebanyak 2.059.187; dan sepeda motor sebanyak 47.683 .681. Tahun 2009 jumlah kendaraan bermotor sebanyak 67.336.644 dengan komposisi: mobil penumpang 7.910.407; bis 2.160.973; truk sebanyak 4.498.171; sepeda motor 52.767.093. Tahun 2010 jumlah kendaraan bermotor sebanyak 76.907.127 dengan komposisi: mobil penumpang sebanyak 8.891.041;bus 2.250.109; truk 4.687.789 dan sepeda motor 61.078.188 (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2009).
Data tersebut di atas, menunjukan bahwa kendaraan bermotor di Indonesia mengalami laju peningkatan dari tahun ke tahun. Peningkatan tersebut tentu karena suatu kondisi di mana masyarakat kota mempunyai aktivitas yang bertambah padat. Mobilitas semakin tinggi dan mereka memerlukan suatu alat transportasi yang cepat aman dan murah.
Begitu pula di Bali, perkembangan kendaraan bermotor mengalami peningkatan yang signifikan juga. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kendaraan bermotor yang ada hampir melampaui kapasitas dan panjang jalan utama. Hal ini dimaklumi bahwa mobilitas penduduk masyarakat perkotaan semakin tinggi. Transportasi merupakan salah satu fasilitas yang menjadi sangat penting. Fasilitas transportasi seperti angkutan umum menjadi alat transportasi alternative. Perkembangan kendaraan bermotor di Bali menunjukan bahwa terjadi peningkatan. Hal ini dapat diketahui dalam Banyaknya Kendaraan bermotor mengalami peningkatan. Dari peningkatan tersebut termasuk ke dalam berbagai tipe kendaran.
Untuk kategori mobil penumpang di Bali berjumlah 1.961.99 kendaraan. Sedangkan dalam tipe yang berbeda yakni jenis kendaran (mobil Gerobak/Truk) berjumlah 65.754 kendaraan. Sedangakan untuk tipe oto bis berjumlah 3.731 kendaraan. Untuk tipe atau jenis sepeda motor berjumlah 1.449.279 kendaraan. Jadi untuk seluruh angkutan baik roda dua maupun roda empat dari berbagai tipe di Bali berjumlah 1.715.675 kendaraan (Kantor Dinas Pendapatan Propinsi Bali).
Melihat keadaan kendaraan bermotor yang semakin padat maka fasilitas infrastruktu sangat diperlukan. Fasilitas angkutan umum sangat diperlukan guna melayani masyarakat menuju ketempat tujuan. Ini tentu saja merupakan peluang dalam bisnis perhubungan. Pengembangan armada-armada angkutan sangat diperlukan untuk jasa angkutan umum di perkotaan.
Angkutan kota (angkot) menjadi salah satu alternatife kebutuhan dalam menyikapi dinamika kota. Transportasi alternative memberikan solusi sementara menjawab permasalahan yang ada. Tentu keberadaan transportasi ini diharapkan dapat menjadi lebih efektif dan efesien bagi para penggunanya.
Tingginya mobilitas masyarakat, wajar kalau angkutan menjadi sektor yang mempunyai daya tarik tersendiri. Di satu sisi, sektor angkutan sebagai penunjang mobilitas dan sarana transportasi masyarakat kota, di sisi yang lain juga memberi peluang usaha dan kesempatan kerja bagi masyarakat miskin kota yang kebanyakkan kaum migran.
Kota Denpasar salah satu kota yang termasuk penduduknya relatif padat. Banyak migran yang datang untuk mengadu nasib, atau pun menangkap peluang bisnis yang potensial untuk dikembangkan. Tentunya migran tersebut tidak semua memiliki keterampilan dan pendidikan yang memadai. Sebagian penduduk migran, hanya memiliki keterampilan yang terbatas. Penduduk pendatang (migran) ini dikategorikan penduduk miskin kota. Mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap, pekerjaan tetap dan tentunya penghasilan mereka tidak menentu. Walaupun demikian tentu juga ingin memperebutkan peluang kerja. Pekerjaan-pekerjaan yang terbuka buat mereka adalah pekerjaan yang tidak banyak menuntut persyaratan formal keahlian yang mengkhusus. Bidang yang pada umumnya mereka banyak geluti ialah di sektor informal. Terkait dengan peluang kerja di jasa angkutan kota maka banyak tenaga kerja migran yang mengisi peluang tersebut. Menjadi sopir angkot tidaklah banyak menuntut persyaratan di bidang pendidikan (formal). Cukup mereka memiliki keterampilan mengemudi dan wawasan tentang lalu lintas perkotaan maka sudah dapat untuk bekerja di sektor ini. Dengan demikian membuka usaha di bidang jasa angkutan membawa peluang bagi penduduk miskin kota mengisi pekerjaan jasa angkutan tersebut.
Belakangan ini Kota Denpasar telah mengalami perubahan dan perkembangan yang sangat signifikan terutama di bidang pembanguan infrastruktur. Sarana dan prasarana seperti jalan terus dilakukan pembuatan dan pembenahan. Pembanguan ini tentunya untuk menghindari kemacetan lalu lintas jalur kota yang semakin padat. Tercatat di tahun 2002, dari 330.609 buah kendaraan berbagai jenis di Kota Denpasar menjadi 345.332 di tahun 2003, dengan peningkatan paling besar pada sepeda motor pada tahun 2002 berjumlah 249.982 menjadi 263.055 buah pada tahun 2003, sedangkan sampai akhir tahun 2004 mengalami peningkatan kendaraan sebanyak 390.345 unit yang terdiri dari : sepeda motor berjumlah 303.920 buah, jenis sedan sebanyak 16,260 buah, jeep sebanyak 14,517 buah, St Wagon sebanyak 35.978 buah, bus sebanyak 646 buah, truk sebanyak 5.418 buah, Pick Up berjumlah 13.606 buah (Dinas Perhubungan Kota Denpasar, 2004:4).
Data tersebut menunjukan bahwa adanya perkembangan jumlah kendaraan bermotor dari berbagai jenis. Hal ini tentu ada yang mempengaruhinya. Sebagai indikator salah satunya ialah pertumbuhan penduduk kota Denpasar yang semakin meningkat dibarengi dengan aktivitas dan mobilitasnya. Untuk mempermudah dan menghemat waktu maupun biaya, kebutuhan skunder seperti sepeda motor, mobil, dan kendaraan lainnya menjadi sangat penting. Gaya hidup masyarakat kota yang cendrung bersifat praktis, materialis dan individualistik mempengaruhi sikap mereka dalam kehidupannya sehari-hari.
Sebagai fenomena sosial dalam masyarakat kota, angkutan kota tidak saja dilihat sebagai bagian dari dinamika masyarakat kota tapi juga mencerminkan bagaimana proses perubahan sosial dari masyarakat kota itu terjadi. Angkutan kota adalah manifestasi dari serangkaian sikap, pola-pola, dan struktur watak yang saling mempengaruhi. Sementara kota dengan berbagai aktivitasnya adalah wilayah respon atau relasi antara adat/tradisi dengan gaya hidup (life style), kesejahteraan dengan kemiskinan, persaingan dengan kerjasama (Kristianto, Basis XXXIII-Sept 1988:334). Dengan demikian angkutan kota sebagai sektor penting penunjang kehidupan masyarakat kota, terkait pula dengan kemungkinan relasi budaya yang saling mempengaruhi sehingga terjadi bentuk perubahan sikap yang dipengaruhi oleh lingkungan kota dengan berbagai permasalahan yang ditimbulkan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, penelitian ini mencoba melihat aspek dari realita sosial angkutan kota yaitu pengambilan pola kehidupan dalam usaha peningkatan taraf hidup sektor informal perkotaan dengan studi kasus pada pengemudi angkutan, khususnya wilayah terminal Ubung, kota Denpasar.
Bergerak di sector informal seperti jasa angkutan tentu ada berbagai hal yang selalu mereka hadapi. Lingkungan kota yang syarat akan masalah kehidupan social yang sangat konflek merupakan beban tersendiri bagi para sopir yang bergerak dibidang jasa angkutan. Intraksi para sopir dengan lingkungan kota tentu sangat mempengaruhi pola kehidupan pengemudi angkutan kota itu sendiri, bila pola kehidupan diasumsikan sebagai serangkaian aktivitas dan interaksi yang saling mempengaruhi antara individu dengan lingkungan, dan lingkungan dengan individu. Pola kehidupan pengemudi angkutan kota ini menjadi menarik karena dapat menunjukkan suatu desekrifsi yang khas (unik) dari suatu komunitas bersama kebudayaannya.
Mengkaji tentang pengemudi angkutan kota sebagai kontruksi sosial masyarakat kota yang terkait dengan peran dan fungsi tatanan masyarakat kota. Mencoba untuk memberikan gambaran individu yang notabene mempunyai nilai, norma, dan tradisi berpengaruh dalam dirinya, bertemu dengan peran dan fungsi dari masyarakat kota. Akan terjadi proses penafsiran kembali, muncul sebagai proses adaptasi atau kemungkinan disorientasi sosial bila terjadi kegagalan adaptasi individu dengan lingkungannya. Memahami bahwa upaya peningkatan taraf hidup adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Maka bersandar pada pengertian ini, aktivitas sehari-hari dalam upaya atau usaha agar menjadi sejahtera berpengaruh pada pola kehidupan setiap individu atau komunitas.
Adapun yang menjadi permasalahan berkenaan dengan fenomena ini yakni: melihat bagaimana pola kehidupan pengemudi angkutan kota mikrolet (Angkot) di Terminal Ubung dalam aktivitas sosial-budayanya serta faktor-faktor yang mempengaruhi pola kehidupan pengemudi angkutan kota. Sedangkan manfaat penelitian ini yakni: Penelitian ini diharapkan menjadi sebuah karya ilmiah yang berguna, dan dapat diterapkan secara praktis. Hal ini sesuai dengan pandangan yang khas Spradley tentang ilmu Antropologi. Bagi Spradley “Ilmu untuk Ilmu” sudah ketinggalan zaman. Ilmu harus memiliki kegunaan praktis dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan (Spradley, Th. 1997: xxxii). Dengan demikian penelitian ilmiah antropologi ini setidaknya dapat memberikan sumbangan pemikiran khususnya kepada kalangan penentu kebijakan (pemerintah) yaitu pertama, untuk mengatasi hambatan budaya berupa perilaku para pengemudi berakibat merugikan baik bagi diri sendiri maupun orang lain berkenaan dengan profesi mereka sebagai pengemudi angkutan kota.
Kedua, untuk usaha memperbaiki sikap pengemudi dan peningkatan pelayanan kepada umum/pengguna jasa angkutan kota. Untuk membantu mengupas permasalahan diperlukan sebuah teori yang akan membedah setiap permasalahan. Ada pun konsep dan teori yang digunakan dalam hal ini ialah konsep kebudayaan atau cultural. Dalam hal ini Kebudayaan sebagai Grand Tour Teory sebagai payung dari sekian banyak konsep dan teori. Beberapa difinisi membantu memperluas pengertian peneliti tentang konsep kebudayaan untuk melihat pola kehidupan pengemudi angkutan kota di Kota Denpasar. Salah satu yang dianggap relevan adalah konsep kebudayaan dari Spradley yang mengatakan: kebudayaan sebagai pengetahuan yang diperoleh manusia dan digunakan untuk menafsirkan pengalaman dan menimbulkan sebuah prilaku (Spradley, 1975:35).
Mendeskripsikan kebudayaan menurut perspektif Spradley seorang antaropolog dapat mempertimbangkan suatu masalah dengan cara sebagai berikut: mempertimbangkan prilaku manusia dengan jalan menguraikan apa yang diketahui mereka yang memperoleh mereka berprilaku secara baik sesuai dengan”common sense” dalam masyarakat atau community. Lebih lanjut kosep tersebut terimplikasi dalam dua subkonsep, yaitu pola bagi (pattern for) kehidupan, dan pola dari (pattern of) kehidupan. Subkonsep pertama adalah mengenai sistem budaya yang meliputi sistem nilai, pandangan hidup, norma, dan aturan-atauran. Subkonsep kedua adalah mengenai sistem sosial (Spradley, 1997).
Lebih lanjut menggunakan teori interaksi sosial. Dalam memberikan pelayanan kemasyarakat tentunya seorang sopir atau pengemudi angkutan akan melakukan kontak atau hubungan dengan para penumpangnya. Disitulah terjadi interaksi sosial. Dengan mengetahui hal itu, maka menjadi penting menguraikan makna dari proses sosial tersebut. Interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial, oleh karena tanpa interaksi tidak akan mungkin ada kehidupan bersama (Young dan W. Mack, 1959: 137).
Interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya berbagai aktivitas. Bentuk lain dari proses sosial bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia (Gillin,1954:489). Sedangkan syarat-syarat terjadinya interaksi sosial ialah adanya kontak sosial dan adanya komumikasi (Soekanto, 1998: 71).

B. PEMBAHASAN
1. Pola Kehidupan Pengemudi Angkutan Kota Dalam Aktivitas Kesehariannya
Pola kehidupan sebagai rangkaian perilaku yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan, dan bergaul dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun serta selalu mengikuti pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan merupakan fungsi atau hasil dari interaksi individu dan situasi yang merangsang. Di samping dipengaruhi oleh adat tata kelakuan, pola kehidupan juga dipengaruhi oleh lingkungan. Julian H. Steward (1955) berpendapat bahwa pada dasarnya berbagai unsur dalam suatu kebudayaan itu saling berhubungan secara fungsional, tetapi tingkat dan macam hubungannya dalam berbagai aspek kebudayaan beranekaragam. Karenanya, saling ketergantungan antara pola-pola kebudayaan dan hubungannya dengan organisme lingkungan hidup yang tampak jelas adalah sangat penting sekalipun ada aspek tertentu dari kebudayaan yang diisolasikan, misalnya aspek ikatan fungsional alam sekitar dengan aspek kebudayaan yang tampak eksplisit.
Pola kehidupan pengemudi angkutan kota, yaitu pengemudi angkutan kota mikrolet jurusan Ubung-Sanglah sebagai subjek penelitian, yang dimaksud di sini adalah menyangkut serangkaian perilaku dan aktivitas para pengemudi dalam aktivitas kesehariannya di seputar lingkungan kerjanya (terminal atau tempat mangkal lainnya), di samping pula mengisi waktu luang menunggu antrian atau istirahat. Hal ini menarik untuk diamati dan diteliti sebagai bagian dari bentuk adaptasi di antara para pengemudi dalam berinteraksi di lingkungan sosial kerjanya.
Para sopir angkot tentunya memiliki cara tersendiri dalam menghadapi dunia kerja atau lingkungnnya. Mereka melakukan adaptasi. Adaptasi dalam hal ini maksudnya adanya proses yang menghubungkan system budaya dan lingkungan (Kaplan, 2002). Mereka memiliki strategi-strategi untuk dapat eksis menghadapi tantangan dalam hidup. Khususnya mereka dalam profesinya sebagai sopir angkot. Sebagai sopir angkot dalam dunia kerjanya akan selalu berhadapan dengan masyarakat (publik) yang menggunakan jasa angkutannya. Ini berarti intensitas para sopir angkot berhadapan dengan berbagai jenis karakter calon penumpang dari berbagai masyarakat yang berbeda dengan intensitas dan pertemuannya cukup tinggi. Para sopir angkot ini akan selalu berhadapan dengan berbagai karakter, yang berbeda pula dan bervariasi sesuai dengan kebudayaan yang mereka bawa. Tentu ini merupakan tantangan yang harus dihadapi bagaimana seorang sopir memberikan jasa pelayaan yang dapat memberikan kenyamanan bagi penumpangnya. Tentunya dalam proses adaptasinya secara terus-menerus memberikan pengalaman baru pada mereka mempelajari semua karakter untuk dapat melakukan interaksi yang lebih baik dan merespon setiap terjadinya kontak dengan para penumpangnya.
Pola hubungan yang mereka gunakan untuk dapat berinteraksi dengan para penumpang atau pun dengan hubungan yang lainnya tidak lepas pada nilai-nilai yang dimiliki oleh para pengemudi angkotan kota secara subyektif. Mereka dalam berintraksi pola-pola hubungan yang mereka gunakan dalam beraktivitas memberikan pelayanan publik selalu akan dipengaruhi oleh ideologi yang tertanam dalam jiwa masing-masing personal. Tentu dalam hal ini tampak jelas setiap pengemudi yang notabinenya dari berbagai suku dan agama, budaya dan lainnya, memiliki cara atau strategi yang bervariasi dalam melakukan pola hubungan sesuai dengan yang identitas atau pembentuk kepribadiannya. Di samping pola hubungan yang berkaitan dengan sistem budaya tentunya yang membentuk perilaku mereka adalah pengetahuan baru yang mereka terima di tempat mereka beraktivitas. Proses pembelajaran tentunya tampak jelas dimana pengemudi angkot ini selama dia bekerja menerima berbagai macam bentuk-bentuk budaya baru baik yang disadari maupun yang bersifat laten. Ini penting mereka lakukan guna dapat cepat beradaptasi dan dapat terus beraktivitas untuk kelangsungan hidup.
Pola kehidupan tentunya tidak lepas dari pengaruh lingkungan tempat mereka bekerja mencari mafkah hidup. Permasalah yang mereka hadapi tidak sesederhana namuan banyak persoalan yang mereka hadapi sebagai sebuah tantangan hidup seperti halnya pergaulan sesama pengemudi, kerjasama yang mereka jalin, dan pola-pola lainnya untuk menumbuhkan semangat kebersamaan sesama pengemudi angkot. Bagaimana pun untuk mencapai proses ke arah tersebut tentunya banyak perjuangan yang mereka harus hadapi. Kehidupan pengemudi kota tidaklah datar-datar saja atau tidak ada konfik yang mereka hadapi melainkan banyak konflik walaupun dalam tataran yang beda dan bervariasi.
Berprofesi sebagai pengemudi atau dunia kerja kerap kali diwarnai dengan persaingan. Dalam hal ini persaingan yang terjadi kalangan mereka cendrung bersifat negatif. Dampak dari persaingan tersebut antar sesama sopir yang mengarah keperkelahian memperebutkan, perebutan penumpang dan sebagainya itu merupakan salah satu contoh bentuk permasalahan yang para pengemudi angkutan kota hadapi di area tempat mereka bekerja. perbeda pandangan atau nilai-nilai yang mereka bawa sangat mempengaruhi tindakan atau pola tingkah laku mereka dalam melakukan kontak atau interaksi baik sesama pengemudi ataupun para calon penumpangnya. Benturan-benturan nilai budaya yang mereka bawa merupakan gejala laten bila setiap pengemudi memaksakan kehendaknya dalam arti penyesuaikan dirinya terhadap lingkungan tidak segera teratasi. Itulah sebabnya mereka para pengemudi angkutan kota belajar hal-hal yang baru dari lingkungan tersebut. Bagi mereka yang berasal dari luar Bali akan belajar memahami watak atau karakteristik orang setempat. Tidak itu saja tetapi lebih luas lagi mereka tanpa sadar juga menyesuaikan diri terhadap kebudayaan yang dominan dalam hal ini kebudayaan Bali. Para pengemudi angkutan kota walaupun sudah membawa nilai-nilai secara subyektif dalam pikirannya akan tetapi tidak boleh lupa bahwa mereka sekarang ada dalam tempat yang berbeda dari tempat asalnya. Menyadari akan hal itu, melakukan pola-pola interaksi sesama pengemudi, maupun para calon penumpangnya merupakan hal yang sangat penting guna dapat mengetahui sikap dan nilai-nilai yang dibawa setiap personal dengan begitu padat secara mudah melakukan pelayanan dan pergaulan yang lebih intensif lagi.
Pengamatan secara impiris yang peneliti dapatkan di lapangan mengenai para pengemudi angkutan kota di Denpasar, dalam menggalang persaudaraan diantara mereka dan ingin lebih memperkuat ikatan diantara, mereka membuat sebuah wadah atau perkumpulan kelompok yang mengharuskan setiap anggotanya untuk membayar lima ribu setiap kali mendapatkan giliran antrean. Dari hasil antrean tersebut para pengemudi membayarkan untuk kas kelompok. Perkumpulan para pengemudi angkutan kota ini pada dasarnya bersifaf ekonomi. Para anggota pengemudi aggota kelompok berhak meminjam uang kas yang telah ditentukan dan sebaliknya mempunyai kewajiban untuk mengembalikan. Uang kas kelompok juga digunakan untuk hal lain sesuai dengan kesepakatan seperti misalnya bila ada diantara anggotanya yang sakit memberikan sumbangan ala kadarnya guna meringankan beban anggotanya.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola kehidupan Pengemudi Angkutan Kota.
Secara umum, dinamika pola kehidupan yang terjadi pada para pengemudi angkutan kota dalam aktivitas kesehariannya tidaklah terlepas dari faktor-faktor yang ada di sekitarnya, yang sedikit banyak mempengaruhi pola kehidupan mereka. Lingkungan kerja (terminal atau tempat mangkal lainnya), lingkungan sosial dan budaya, serta kondisi ekonomi merupakan faktor-faktor yang mendorong bagi terjadinya dinamika pola kehidupan mereka. Semua faktor pendorong tersebut akan diuraikan secara terperinci dalam sub bab di bawah ini.

a. Lingkungan Kerja
Sebagai tempat berkumpulnya para pengemudi angkutan kota, terminal menjadi tempat yang strategis bagi terjadinya interaksi di antara para pengemudi serta turut andil dalam menciptakan pola kehidupan yang baru bagi mereka. Setiap hari para pengemudi datang dan pergi ke dan dari terminal dimana mereka berpangkal. Aktivitas ini juga dilakukan oleh para pengemudi angkutan kota jurusan Ubung-Sanglah di terminal Ubung.
Aktivitas para pengemudi angkutan kota, jurusan Ubung-Sanglah, biasanya mulai jam 6 pagi sampai jam 6 sore, bahkan ada yang sampai jam 8 malam. Rata-rata per hari mereka beraktivitas sekitar 10 – 14 jam. Dalam sebulan rata-rata mereka bekerja selama 25 – 26 hari, umumnya hari Minggu libur kecuali ada carteran. Sehari-harinya, di saat kondisi penumpang ramai, aktivitas mereka cukup sibuk dan padat.
Kesibukan mencari penumpang di saat kondisi ramai cukup melelahkan fisik dan pikiran para pengemudi angkutan kota, belum lagi kebisingan dan keramaian suasana terminal serta masalah-masalah yang mungkin terjadi saat di perjalanan. Peningkatan jumlah kendaraan angkutan kota, seiring dengan perkembangan kota yang semakin pesat, yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada penghasilan yang diperoleh karena semakin banyaknya saingan di jalan, juga turut menambah beban psikologis mereka. Sementara di saat kondisi sepi, tekanan ekonomi dan beban psikologis juga menghimpit mereka.
Kuatnya persaingan di jalan menyebabkan banyak pengemudi angkutan kota yang lebih suka mengambil jalan pintas untuk sampai ke terminal dan mengambil antrian secepatnya. Kondisi ini semakin diperparah dengan sering terjadinya ketidakadilan dalam penegakan peraturan retribusi (membawa penumpang tanpa melewati terminal) dan penegakan peraturan berkaitan dengan antrian (menurunkan penumpang di luar terminal untuk menghindari antrian - ngeces). Belum lagi terkadang muncul persaingan yang tidak sehat di kalangan para pengemudi sendiri, terjadi rebutan penumpang khususnya di saat sepi, sehingga pertikaian dan konflik di antara mereka tidak terhindari yang akhirnya dapat menyebabkan terganggunya hubungan pertemanan.
Dalam kondisi lingkungan kerja yang seperti itu, tentu saja dibutuhkan suatu pelepasan, dalam artian suasana baru yang kondusif dan santai untuk melepaskan segala kelelahan dan ketegangan mereka. Dan suasana yang tepat untuk itu adalah saat waktu luang, baik saat menunggu antrian maupun saat istirahat makan siang. Di saat itulah mereka saling berinteraksi, berkumpul sambil bercanda dan bercerita, bermain catur atau ceki sambil minum kopi dan menghisap rokok, atau tidur-tiduran.
b. Lingkungan Sosial dan Budaya
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, mempunyai naluri untuk senantiasa berhubungan dengan sesamanya antara lain menyangkut kaitan timbal-balik yang saling pengaruh-mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling tolong-menolong. Hubungan yang sinambung tersebut menghasilkan pola pergaulan yang dinamakan pola interaksi sosial. Di dalam interaksi sosial ini, yang penting untuk diperhatikan adalah reaksi yang timbul sebagai akibat hubungan-hubungan itu, yang menyebabkan tindakan seseorang bertambah luas di mana dalam memberikan reaksi tersebut ada suatu kecenderungan manusia untuk memberikan keserasian dengan tindakan-tindakan orang lain. Dengan kata lain, reaksi yang timbul dalam interaksi sosial akan menyebabkan perubahan pola kehidupan atau perilaku seseorang.
Pola-pola perilaku merupakan cara-cara masyarakat bertindak atau berkelakuan yang sama dan harus diikuti oleh semua anggota masyarakat tersebut (Soekanto, 2002:180). Selain terpengaruh oleh tindakan bersama, pola-pola perilaku masyarakat juga sangat dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakatnya sebagai garis atau petunjuk dalam hidup. Apabila manusia sudah dapat menyesuaikan diri, maka ia dapat hidup dengan manusia lain dalam suasana damai.
Setiap kelompok masyarakat maupun organisasi mempunyai budaya yang mengikat anggotanya untuk tetap bersatu dan menjaga, supaya tercapainya tujuan yang diinginkan serta yang diharapkan. Dengan adanya visi dan tujuan tersebut maka segala bentuk aturan-aturan, nilai-nilai dan norma-norma kebersamaan ini dijadikan pedoman, acuan dan landasan yang mengatur dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Hal ini berlaku juga bagi kelompok para pengemudi angkutan kota di mana adanya etika dan nilai kebersamaan merupakan budaya pengemudi yang dapat menyatukan mereka.
Dalam setiap masyarakat akan dijumpai suatu proses yaitu proses sosialisasi, di mana seorang anggota masyarakat yang baru akan mempelajari norma-norma dan kebudayaan masyarakat di mana dia menjadi anggota. Pada tahap ini, ia mulai mempelajari pola-pola perilaku yang berlaku dalam masyarakatnya dengan cara mengadakan hubungan dengan orang lain, dalam hal ini sesama pengemudi angkutan kota. Proses sosialisasi ini menjadi sangat penting bagi terciptanya hubungan yang baik di antara para pengemudi, mengingat beragamnya perbedaan yang ada seperti latar belakang budaya, sosial, dan ekonomi karena mereka berasal dari berbagai daerah.

Sebagai kelompok yang terikat secara sosial dan budaya, yang diakui sebagai nilai-nilai dan norma-norma yang menyatukan mereka, maka dalam lingkungan kebersamaan atau pertemanan ini para pengemudi dapat saling membantu memecahkan berbagai masalah yang terjadi baik di lingkungan sosial mau di lingkungan rumah tangganya. Dukungan sosial dari sesama pengemudi, mereka dapatkan dengan meluangkan waktu untuk kumpul, ngobrol sambil minum kopi, atau merokok sambil bermain kartu. Secara tidak langsung, aktivitas ini turut membentuk pola kehidupan mereka.
c. Kondisi Ekonomi
Terminal Ubung, yang merupakan terminal terbesar di Bali, dalam pengelolaannya melibatkan beberapa instansi yang memiliki wewenang dan tugas yang berbeda-beda salah satunya adalah Organda sebagai wadah dari para pengemudi angkutan umum. Tugas utama Organda adalah membina dan meningkatkan kesejahteraan para anggotanya, dalam hal ini adalah para pengemudi angkutan kota. Organda juga bertugas menciptakan persaingan yang sehat di antara para anggota.
Dunia usaha adalah dunia persaingan. Dengan kata lain, persaingan merupakan gejala yang selalu melekat dalam dunia usaha tidak terkecuali di sektor perhubungan darat yaitu angkutan kota. Sehubungan dengan situasi inilah Organda berperanan untuk membatasi persaingan, baik pada angkutan sejenis maupun dengan angkutan jenis lain, agar tidak saling mematikan.
Dalam menciptakan kondisi yang sehat di dunia angkutan, Organda menetapkan beberapa kebijakan yaitu: (1) pengelompokan jurusan/trayek kendaraan bermotor non bis, (2) penjadualan giliran berangkat bagi kendaraan non bis (sistem antrian), dan (3) bertanggung jawab bersama-sama menciptakan ketertiban dan keamanan terminal. Dengan kebijakan ini, diharapkan persaingan antara berbagai jenis angkutan yang dapat menjurus kepada persaingan yang mematikan dapat dihindari.
Bagi para pengemudi angkutan kota, kebijakan tersebut khususnya dalam sistem antrian di satu sisi menghindarkan mereka dari persaingan yang tidak sehat, dan di sisi lain memberikan waktu luang yang cukup banyak bagi terciptanya interaksi yang lebih luas dengan sesama pengemudi di terminal sambil menunggu giliran/antrian berikutnya. Memang secara ekonomis, sistem antrian tentu akan mengurangi jam kerja yang berarti juga mengurangi jumlah pendapatan, tetapi tidak menjadi masalah besar selama semua pengemudi menaaatinya dengan benar.
Namun sekarang ini, saat kondisi yang sepi sebagai akibat kenaikan BBM dan meningkatnya kendaraan motor roda dua (sepeda motor), mau antri atau tidak antri sama saja, sama-sama tidak menguntungkan. Kalau antri di terminal, kadang-kadang seharian tidak dapat giliran jalan karena sepi penumpang bahkan ada yang sampai nginap dengan harapan dapat carteran penumpang. Sebaliknya, kalau tidak antri atau ngeces (cari penumpang di luar) resikonya juga tidak dapat penumpang bahkan rugi karena bahan bakar habis hanya untuk putar-putar saja. Keluhan ini banyak dikemukakan oleh para pengemudi angkutan kota.
Dalam kondisi ekonomi yang lesu dan sulit seperti itu, para pengemudi angkutan kota akhirnya lebih banyak memilih menunggu penumpang di terminal atau di tempat mangkal lainnya. Walaupun mereka menyadari bahwa tuntutan ekonomi keluarga atau membayar cicilan dan hutang ke bank tidak bisa ditunda, tetapi mau apa lagi selain hanya menunggu dan menunggu. Dengan kondisi yang lebih banyak menunggu di terminal inilah yang sadar atau tidak disadari, sedikit banyak telah mempengaruhi pola kehidupan mereka. Interaksi terjadi dan menyebabkan perubahan-perubahan dalam pola hidup mereka, dari yang tidak suka berkumpul jadi suka, dari yang tidak suka main (remi atau ceki) jadi suka, dari tidak suka merokok jadi suka, dan sebagainya.

C. PENUTUP
Pola kehidupan pengemudi angkutan kota dalam menjalani aktivitas keseharian di lingkungan kerjanya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan kerja, lingkungan sosial budaya, serta kondisi ekonomi. Lingkungan kerja pengemudi angkotan kota meliputi seputar terminal dan tempat mangkal lainnya atau sepanjang jalan (rute) yang dilalui dengan segala aktivitas yang terjadi, lingkungan sosial budaya berupa etika dan nilai kebersamaan yang menjadi pedoman, acuan dan landasan untuk mengatur dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, serta kondisi ekonomi dalam memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga atau membayar cicilan dan hutang ke bank telah mendorong bagi terciptanya pola kehidupan para pengemudi angkutan kota (Ubung-Sanglah). Dalam tahap selanjutnya, akan terlihat kecenderungan pola kehidupan berpengaruh terhadap sikap mengemudi dalam memberikan pelayanan umum.

Pola kehidupan yang telah dijalani selama ini, berupa adanya hubungan kerja pada lingkungan kerja pengemudi, terlihat lebih banyak didominasi dengan sikap-sikap yang mengedepankan nilai-nilai kebersamaan atas dasar prinsip sosial yang dianut pada budaya kerja masyarakat Bali, yaitu mengedepankan adanya keselarasan dengan Tuhan, sesama dan lingkungan. Walau situasi dalam bekerja terjadi perubahan bila dilihat dari sudut pendapatan, pengemudi angkutan kota jurusan Ubung-Sanglah telah memodifikasi tekanan ekonomi yang terjadi dengan menghadapi tekanan tersebut secara kolektif, sehingga pada perilaku yang terlihat pada keseharian mereka sebagai wujud dari sikap yang dikembangkan pada praktek, pengemudi menjadi lebih suka ngumpul, duduk bersama, bermain kartu, minum kopi pada tempat-tempat yang disepakati bersama. Adanya fakta di lapangan tersebut menegaskan bahwa pola kehidupan yang telah dibentuk pada komunitas pengemudi berpengaruh signifikan pada sikap pengemudi dalam memberikan pelayanan umum.

DAFTAR PUSTAKA
Dinas Perhubungan Kota Denpasa.2003.Informasi Pelayanan Publik. Denpasar: Dinas Perhubungan Kota Denpasar.2005. Informasi Pelayanan Publik. Denpasar: Dinas Perhubungan Kota Denpasar.
Soekanto, Soerjono.1982. Beberapa Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat. Jakarta: Grafindo. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa.
Spradley, James P.1997. Metode Etnografi. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana.
Statistik Indonesia. 2009. Badan Pusat Statistik. Jakarta: Biro Pusat Statistik.
Statistik Perhubungan tahun 2012.
Kaplan, David & Ribert A. Manners. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rabu, 13 Februari 2013

UPACARA SIAT GENI DI DESA TUBAN KABUPATEN BADUNG

UPACARA SIAT GENI DI DESA TUBAN KABUPATEN BADUNG


Oleh:
I Made Suarsana
I Wayan Rupa
I Wayan Suca Sumadi
I Gusti Ngurah Jayanti
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB, dan NTT



ABSTRAK

Siat Geni merupakan salah satu bentuk ritual religius magis. Kegiatan tersebut terselenggara secara kontinyu pada setiap pujawali Puranamaning Kapat, bertempat di Pura Dalem Kahyangan desa adat Kuta. Adapun permasalahan dalam tulisan yakni melihat Bagaimana bentuk Siat, Sarana dan Prasarana apa saja yang diperlukan dalam Siat Geni serta Apa fungsi dan makna dari Siat Geni tersebut. Sedangkan tujuan dalam penulisan ini adalah mengkaji dan menganalisis serta mendokumentasikan. Dalam pembahasan dijelaskan bahwa Siat Geni merupakan rangkaian prosesi keagaamaan dalam pujawali di Pura Dalem Kahyangan desa adat Kuta. Ritual Siat Geni dilakukan sebagai pelengkap dari sistem ritual yang menjadi syarat dalam pujawali. Siat Geni dimaknai sebagai sebuah symbol permainan yang dalam dunia niskala atau di luar logika manusia adalah para Buta kala melepaskan kekuatannya yang berupa Api Ludra untuk dipersembahkan sebagai rasa bakti kepada Bhatara Dalem. Dengan pelepasan Api Ludra tersebut, diyakini segala yang berbau negatif terlebur dan dinetralisir, sehingga keseimbangan buana alit dan buana agung dapat harmonis.
Kata kunci: Pujawali, Siat Geni, dan Desa Adat Tuban.


SISTEM KEPERCAYAAN DAN KESENIAN DESA ADAT PENGLIPURAN



Disampaikan dalam Rangka siaran di RRI Denpasar
SISTEM KEPERCAYAAN DAN KESENIAN DESA ADAT PENGLIPURAN[1]
 Oleh: I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si.


I. PENDAHULUAN
Dalam perkembanganya komunitas adat di Indonesia semakin berani menonjolkan diri dan telah banyak mendeklarasikan keberadaan komunitasnya, sebagai cara untuk dapat eksis dan berkembang dan memperkenalkan corak budayanya. Masing-masing komunitas adat sudah tentu memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Keadaan ini wajar terjadi karena perbedaan ekologi maupun system kepercayaan yang dianutnya. Namun dalam mengkaji sebuah masyarakat dalam arti yang lebih sepesifik adalah kumunitas adat masih banyak yang mempertahankan ajaran-ajaran leluhurnya sebagai pola bagi kelakuan masyarakat tersebut. Di samping itu mereka banyak yang masih percaya akan kekuatan diluar kemampuan akal manusia. Salah satu cirinya sangat kental akan ritual-ritual dan sangat menonjol dalam setiap pelaksanaan kegiatan upacara pada setiap fase atau siklus hidup selalu ditandai dengan melakukan penghormatan terhadap roh leluhur.

Kepercayaan Komunitas Adat Kepercayaan Komunitas Adat Kampung Bena



Disampaikan dalam Rangka siaran di RRI Denpasar Tanggal 11 Februari 2011
Judul : Kepercayaan Komunitas Adat Kampung Bena

Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si[1].

A.  Latar Belakang Penelitian
Pada suku-suku bangsa di Indonesia, kepercayaan atau religi merupakan salah satu unsur dalam kehidupan masyarakat yang hingga kini masih eksis. Religi atau kepercayaan merupakan suatu unsur kebudayaan yang bersifat sangat abstrak, apa yang diyakini oleh masyarakat antara komunitas kebudayaan yang satu dengan  komunitas kebudayaan yang lain akan berbeda, begitu juga dalam bentuk prilaku dalam mengaktualisasikan kepercayaan yang di yakininya. Seperti halnya di Pulau Flores yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki sistem kepercayaan yang beragam baik dalam pemaknaannya maupun dalam bentuk-bentuk ritualnya. Pada masyarakat Flores dan khususnya komunitas Kampung Bena, pemujaan terhadap roh leluhur masih sangat dipelihara hingga saat ini.

Selasa, 13 November 2012

Perkawinan Pada Gelahang di Bali



Resensi Buku
Judul : Perkawinan Pada Gelahang di Bali.
Cetakan : I (Pertama) Tahun 2009
Penerbit : Udayana University Press
Pengarang: I Wayan Windia, dkk
Tebal halaman : x + 129 hlm ; 14 x 21 cm

I Gusti Ngurah Jayanti
BPNB, Denpasar

Sebagai suatu proses dalam kehidupan, tentu saja akan melewati berbagai kewajiban-kewajiban yang terkadang mutlak untuk dilakukan demi eksistensi hidupnya. Salah satu proses yang paling sering dilakukan dalam menginjak berbagai fase kehidupan adalah dengan mengadakan ritual-ritual baik adat maupun agama. Dalam kehidupan masyarakat Bali tidak dapat lepas dari dua unsur struktur tersebut. Adat merupakan wadah bagi komunitas untuk menjalankan berbagai kepentingan-kepentingan dalam kehidupan masyarakat. Karena adanya kepentingan-kepentingan tersebut, maka dalam struktur social secara khusus membuat berbagai pranata social yang nantinya dapat berfungsi sebagai wadah, mengkomunikasikan berbagai urusan baik secara internal maupun ekstrenal. Nampak bahwa perubahan yang terjadi di tengah masyarakat terjadi begitu dinamis dan mengalami dinamikanya tersendiri. Hal ini dapat dilihat seperti keberadaan desa adat dan norma-norma atau peraturannya dibeberapa wilayah telah mengalami perubahan sesuai dengan keadaan jamannya. Salah satu pranata sosial yang umum dalam masyarakat adalah lembaga yang mengesahkan seseorang menginjak ketingkat fase-fase kehidupan, dalam hal ini adalah inisiasi yang dilakukan untuk meligitimasi seseorang dalam menata kehidupannya.

Situs-Situs Populer

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites