Rabu, 09 Desember 2015

Mojang Priangan Bandung


Varian Seni Tari Indonesia


vidio seni dan budaya

Generasi Muda Penerus Seni Budaya Presean Lombok





POLA PRILAKU DAN PELAYANAN SOPIR ANGKUTAN KOTA
DI KOTA DENPASAR



Oleh
BPSNT BALI, NTB, NTT
Jln. Raya Dalung-Abianbase 107 Badung Bali
Telp. (0361) 439547, Fax. (0361) 439546
Hp. 081338399668


ABSTRAK

Angkutan kota merupakan salah satu alternative sebagai alat transfortasi yang dapat digunakan oleh penduduk kota. Namun, peran angkutan ini sangat dipengaruhi oleh prilaku pelayanan yang diberikan oleh sopir terhadap penumpangnya. Masyarakat akan nyaman dan selalu mengharapkan angkutan kota yang murah aman dan nyaman. Keadaan ini akan selalu terjaga bila pola prilaku sopir angkot kota dapat memberikan pelayanan yang memuaskan bagi para pengguna angkutan kota. Eksistensi angkutan kota sangat tergantung daripada para sopir memberikan pelayanan dalam bentuk ketepatan waktu, keamanan dan kenyamaan dalam berkendara. Bila hal itu diabaikan tidak mustahil angkutan kota akan semakin ditinggalkan.
Kata kunci : Sopir angkutan kota dan Prilaku Pelayanan.

Minggu, 14 Desember 2014

INCES DALAM KEHIDUPAN SOSIAL RELIGIUS MASYARAKAT BALI



INCES DALAM KEHIDUPAN SOSIAL RELIGIUS MASYARAKAT BALI
I Nyoman Duana Sutika
I Gusti Ngurah Jayanti
Fakultas Sastra Universitas Udayana
Jln. Nias 13 Denpasar
Hp. 082144444058

ABSTRAK
Inces sosial religius dipahami sebagai larangan tata kehidupan sosial masyarakat Bali terhadap prilaku kehidupannya yang diatur dalam dresta dan sima (kebiasaan) masyarakatnya. Tata nilai tersebut sampai saat ini masih tetap dipertahankan, diyakini dan ditaati oleh anggota masyarakat Bali. Ketaatan ini didasari oleh adanya keyakinan dan persepsi masyarakat atas konsekuensi sosial religius yang ditimbulkan bagi pelanggarnya. Dengan demikian masyarakat Bali  senantiasa menjadikan tri hita karana sebagai payung kearifan lokal di dalam segala aspek kehidupan sosial religiusnya, yakni menjaga hubungan yang selaras dan harmonis dengan pencipta (Tuhan), sesama, dan alam lingkungannya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera dan damai bagi kelangsungan hidup masyarakatnya.
Kata kunci: Inces, kearifan lokal, tata nilai, dan sosial religius

Sabtu, 13 Desember 2014

PERKAWINAN YENTANA DALAM SISTEM PATRILINIAL DI BALI



PERKAWINAN YENTANA DALAM SISTEM PATRILINIAL DI BALI

I Gusti Ngurah Jayanti
ngurah_jayen@yahoo.com
Hp.081338399668

ABSTRAK
Perkawinan adat Bali pada umumnya menerapkan system perkawinan patrilinial dalam hubungan kekerabatannya, pihak laki-laki membawa peranan yang lebih menonjol dibandingkan dari pihak perempuan. Laki-laki sebagai pihak “kepurusa” sebagai sentral pemegang tanggung jawab terhadap segala bentuk aturan adat yang terdapat di pakraman atau wilayah tempat tinggalnya (desa adat). Sentralias dan absolutnya peran laki-laki baik secara social (public) dan juga secara religious menyebabkan kedudukan dan peran kepurusa hampir tidak dapat digantikan oleh perempuan sebagai pradana. Konsep perkawinan adat Bali yang demikian ini membawa konsekuensi logis terhadap psikologis dari peran perempuan secara genderis. Hal inilah memicu adanya pola-pola alternative untuk berusaha menempatkan status perempuan agar dalam perubahan jaman, perempuan juga dapat seyogyanya mempunyai peran yang sama terhadap laki-laki. Nyentana merupakan salah satu pola perkawinan adat Bali yang menempatkan perempuan sebagai purusa dan laki-laki sebagai predana. Ini berarti secara hukum adat Bali menempatkan perempuan pada posisi yang sentral walaupun masih dalam batasan secara simbolis. Dalam kata lain masih dalam bayang symbol patriarkhi masih tetap mengikat secara genderis.
Kata kunci: Nyentana, Perkawinan, adat Bali, Patrilinial.

Jumat, 12 Desember 2014

PROSESI PERKAWINAN ADAT SASAK



PROSESI PERKAWINAN ADAT SASAK[1]
Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si[2].

Pendahuluan
Perkawinan merupakan sebuah fenomena budaya yang hampir terdapat di semua komunitas budaya, khususnya di Indonesia. Perkawinan dianggap sebagai suatu peristiwa yang penting, oleh sebagaian masyarakat. Suku Sasak menganggap perkawinan merupakan bagian dari pristiwa penting dalam proses perjalanan kehidupannya. Oleh karena itu upacara perkawinan selalu dirayakan dengan penuh suka cita, diiringi dengan prosesi adat dan kesenian. Dalam masyarakat Sasak, mengenal beberapa cara pelaksanaan perkawinan yaitu:
1.     Kawin Lari (marariq)
Proses kawin lari dimulai dengan persiapan dari pihak laki-laki mulai dari proses komunikasi terkait tempat bertemu sampai pada tempat melarikan diri. Si gadis dilarikan oleh seorang pemuda yang pada saat penjemputan tersebut, si pemuda juga telah mengajak beberapa keluarga dekat yang salah satunya adalah seorang wanita. Wanita ini nantinya mendampingi si gadis selama proses pelarian tersebut. Si gadis tidak langsung diajak pulang ke rumah laki-laki, namun si gadis disembunyikan di tempat kerabat wanita keluarga  si pemuda.

Rabu, 10 Desember 2014

RITUAL DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA, PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT



RITUAL DAN KEPERCAYAAN MASYARAKAT
PULAU BUNGIN KABUPATEN SUMBAWA,
PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT

I Gusti Ngurah Jayanti
I Made Sumertha
HP.081338399668


ABSTRAK

Pulau Bungin menyimpan pesona alam maupun budaya yang sangat unik. Penduduk pulau Bungin sebagian besar berasal dari suku Bajo. Mereka umumnya adalah para pelaut. Dalam kehidupannya masyarakat Bungin masih percaya terhadap hal-hal mistis. Hal ini dapat dilihat dari ritual-ritual keagamaan. Ritual-ritual yang menyangkut persembahan terhadap roh leluhur atau pun persembahan terhadap penguasa laut kerap dilaksanakan oleh masyarakat Bungin. ritual-ritual memiliki tujuan untuk menjaga keseimbangan alam sehingga mereka dapat menjalani kehidupan ini dengan aman dan tenteram.
Kata kunci: Pulau Bungin, Sistem Kepercayaan, suku Bajo.



Selasa, 08 Oktober 2013

Begasingan Permainan Tradisional Lombok Timur



BEGASINGAN PERMAINAN TRADISIONAL LOMBOK TIMUR
 Oleh
I Made Satyananda


              Gasing merupakan salah satu alat permainan yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Permainan gasing saat ini sudah sangat langka, terutama di kota-kota besar di negara kita. Permainan ini sama nasibnya seperti permainan lainnya sudah kalah pamor oleh alat permainan yang menggunakan teknologi tinggi atau alat permainan elektronik seperti computer games, video games, play station, ninetendo dan yang lainnya. Permainan tradisional yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat berfungsi sebagai salah satu sarana penanaman nilai-nilai budaya.  Dahulu sebelum perkembangan teknologi pesat seperti sekarang ini, fungsi tersebut sangat efektif. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi keberadaan permainan tradisional  tersebut mulai tergeser oleh hadirnya berbagai jenis permainan modern seperti ; games, playstation dan sebagainya, yang oleh sebagian besar anak-anak sekarang dianggap lebih menarik.  Padahal apabila ditinjau dari segi manfaatnya sangat bertolak belakang dengan permainan tradisional. Permainan modern membentuk anak bersifat individual,  kurang kreatif, dan juga memerlukan biaya yang mahal.
Permainan tradisional atau permainan rakyat sebagai salah satu khasanah budaya bangsa merupakan suatu kegiatan jasmani yang seringkali dihubungkan dengan kebutuhan kehidupan yang memerlukan pembinaan keseimbangan organ tubuh. Melalui permainan tradisional dapat memenuhi tuntutan dan tempat menyalurkan rangsangan yang dapat menimbulkan berbagai kebutuhan yang melibatkan berbagai kegiatan sosial budaya, baik secara langsung maupun tidak langsung sebagaimana tercermin pada perkembangan berbagai bentuk permainan tradisional.

Rabu, 13 Februari 2013

UPACARA SIAT GENI DI DESA TUBAN KABUPATEN BADUNG

UPACARA SIAT GENI DI DESA TUBAN KABUPATEN BADUNG


Oleh:
I Made Suarsana
I Wayan Rupa
I Wayan Suca Sumadi
I Gusti Ngurah Jayanti
Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali, NTB, dan NTT



ABSTRAK

Siat Geni merupakan salah satu bentuk ritual religius magis. Kegiatan tersebut terselenggara secara kontinyu pada setiap pujawali Puranamaning Kapat, bertempat di Pura Dalem Kahyangan desa adat Kuta. Adapun permasalahan dalam tulisan yakni melihat Bagaimana bentuk Siat, Sarana dan Prasarana apa saja yang diperlukan dalam Siat Geni serta Apa fungsi dan makna dari Siat Geni tersebut. Sedangkan tujuan dalam penulisan ini adalah mengkaji dan menganalisis serta mendokumentasikan. Dalam pembahasan dijelaskan bahwa Siat Geni merupakan rangkaian prosesi keagaamaan dalam pujawali di Pura Dalem Kahyangan desa adat Kuta. Ritual Siat Geni dilakukan sebagai pelengkap dari sistem ritual yang menjadi syarat dalam pujawali. Siat Geni dimaknai sebagai sebuah symbol permainan yang dalam dunia niskala atau di luar logika manusia adalah para Buta kala melepaskan kekuatannya yang berupa Api Ludra untuk dipersembahkan sebagai rasa bakti kepada Bhatara Dalem. Dengan pelepasan Api Ludra tersebut, diyakini segala yang berbau negatif terlebur dan dinetralisir, sehingga keseimbangan buana alit dan buana agung dapat harmonis.
Kata kunci: Pujawali, Siat Geni, dan Desa Adat Tuban.


SISTEM KEPERCAYAAN DAN KESENIAN DESA ADAT PENGLIPURAN



Disampaikan dalam Rangka siaran di RRI Denpasar
SISTEM KEPERCAYAAN DAN KESENIAN DESA ADAT PENGLIPURAN[1]
 Oleh: I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si.


I. PENDAHULUAN
Dalam perkembanganya komunitas adat di Indonesia semakin berani menonjolkan diri dan telah banyak mendeklarasikan keberadaan komunitasnya, sebagai cara untuk dapat eksis dan berkembang dan memperkenalkan corak budayanya. Masing-masing komunitas adat sudah tentu memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Keadaan ini wajar terjadi karena perbedaan ekologi maupun system kepercayaan yang dianutnya. Namun dalam mengkaji sebuah masyarakat dalam arti yang lebih sepesifik adalah kumunitas adat masih banyak yang mempertahankan ajaran-ajaran leluhurnya sebagai pola bagi kelakuan masyarakat tersebut. Di samping itu mereka banyak yang masih percaya akan kekuatan diluar kemampuan akal manusia. Salah satu cirinya sangat kental akan ritual-ritual dan sangat menonjol dalam setiap pelaksanaan kegiatan upacara pada setiap fase atau siklus hidup selalu ditandai dengan melakukan penghormatan terhadap roh leluhur.

Kepercayaan Komunitas Adat Kepercayaan Komunitas Adat Kampung Bena



Disampaikan dalam Rangka siaran di RRI Denpasar Tanggal 11 Februari 2011
Judul : Kepercayaan Komunitas Adat Kampung Bena

Oleh : I Gusti Ngurah Jayanti, S.Sos.,M.Si[1].


A.  Latar Belakang Penelitian
Pada suku-suku bangsa di Indonesia, kepercayaan atau religi merupakan salah satu unsur dalam kehidupan masyarakat yang hingga kini masih eksis. Religi atau kepercayaan merupakan suatu unsur kebudayaan yang bersifat sangat abstrak, apa yang diyakini oleh masyarakat antara komunitas kebudayaan yang satu dengan  komunitas kebudayaan yang lain akan berbeda, begitu juga dalam bentuk prilaku dalam mengaktualisasikan kepercayaan yang di yakininya. Seperti halnya di Pulau Flores yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki sistem kepercayaan yang beragam baik dalam pemaknaannya maupun dalam bentuk-bentuk ritualnya. Pada masyarakat Flores dan khususnya komunitas Kampung Bena, pemujaan terhadap roh leluhur masih sangat dipelihara hingga saat ini.

Selasa, 13 November 2012

Perkawinan Pada Gelahang di Bali



Resensi Buku
Judul : Perkawinan Pada Gelahang di Bali.
Cetakan : I (Pertama) Tahun 2009
Penerbit : Udayana University Press
Pengarang: I Wayan Windia, dkk
Tebal halaman : x + 129 hlm ; 14 x 21 cm

I Gusti Ngurah Jayanti
BPNB, Denpasar

Sebagai suatu proses dalam kehidupan, tentu saja akan melewati berbagai kewajiban-kewajiban yang terkadang mutlak untuk dilakukan demi eksistensi hidupnya. Salah satu proses yang paling sering dilakukan dalam menginjak berbagai fase kehidupan adalah dengan mengadakan ritual-ritual baik adat maupun agama. Dalam kehidupan masyarakat Bali tidak dapat lepas dari dua unsur struktur tersebut. Adat merupakan wadah bagi komunitas untuk menjalankan berbagai kepentingan-kepentingan dalam kehidupan masyarakat. Karena adanya kepentingan-kepentingan tersebut, maka dalam struktur social secara khusus membuat berbagai pranata social yang nantinya dapat berfungsi sebagai wadah, mengkomunikasikan berbagai urusan baik secara internal maupun ekstrenal. Nampak bahwa perubahan yang terjadi di tengah masyarakat terjadi begitu dinamis dan mengalami dinamikanya tersendiri. Hal ini dapat dilihat seperti keberadaan desa adat dan norma-norma atau peraturannya dibeberapa wilayah telah mengalami perubahan sesuai dengan keadaan jamannya. Salah satu pranata sosial yang umum dalam masyarakat adalah lembaga yang mengesahkan seseorang menginjak ketingkat fase-fase kehidupan, dalam hal ini adalah inisiasi yang dilakukan untuk meligitimasi seseorang dalam menata kehidupannya.

Senin, 18 Juni 2012

MENGENAL PESONA WISATA FLORES TIMUR


MENGENAL PESONA WISATA FLORES TIMUR

            Flores Timur (FloTim) dengan ibu kota Larantuka, merupakan sebuah kabupaten kepualauan di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mencakup Flotim daratan, pulau Adonara dan pulau Solor. Karakter geografis ini ternyata mengandung sumber daya yang begitu kaya, berupa jejak-jejak kepurbakalaan, sejarah kebudayaan dan kesenian, flora-fauna, serta kebaharian yang padat potensi.
            Kabupaten ini secara administrasi terdiri dari 13 kecamatan dan 17 kelurahan, 198 desa, dengan jumlah penduduk 150.000 jiwa (data 2004). Umumnya masyarakat masih menggantungkan hidupnya atau bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada, dengan sebagian lainnya sebagai pegawai baik pada instansi pemerintah maupun swasta, serta sebagai pengusaha diberbagai sektor kehidupan.

Kamis, 14 Juni 2012

BERLIBUR MELIHAT KOMODO


SEKILAS WISATA :
BERLIBUR MELIHAT KOMODO
Taman Nasional Pulau Komodo



Pulau komodo adalah sebuah pulau yang relative kecil dengan luas 280 km2 . Pulau ini terletak di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores. Sesuai penamaannya pulau ini dikenal dengan reftil purbanya yaitu Komodo (varanus Comodoensis) dalam bahasa setempat disebut “ora”. Komodo merupakan reftil langka yang masih ada dan diperkirakan mulai langka sehingga dijadikan binatang yang dilindungi. Komodo yang mendiami di Pulau Komodo memiliki ukuran yang bervariasi tergantung usia. Komodo bisa mencapai panjang 3 – 4 meter dan berumur setengah juta tahun yang lalu. Reftil semacam ini merupakan jenis herbifora yang memakan daging seperti hewan kambing, rusa, dan bangkai lainnya. Kelangkaan jenis binatang ini menjadi perhatian pemerintah sehingga patut dilindungi dengan undang-undang. Perhatian tersebut diterjemahkan ke dalam bentuk perlindungan, Pulau Komodo menjadi Taman Nasional yang di dalamnya tidak hanya spesies komodo saja namun terdapat juga beberapa spesies langka seperti burung, rusa, babi hutan yang akan menjadi mangsa komodo.